
Membaca bisnis Indonesia hari ini bertajuk ‘Tarif internet turun 40% mulai juni’ sepertinya akan menjadi angin segar bagi pengguna internet di Indonesia. Setelah 1 April lalu pemerintah melalui Depkominfo memutuskan menurunkan biaya interkoneksi antara operator telekomunikasi berkisar 20-40 persen, juni nanti akan diberlakukan peraturan baru untuk tarif sewa jaringan ‘leased line’. Penurunan cukup signifikan yaitu sebesar 46-81% bergantung pada jarak.
Mahalnya tarif Internet di Indonesia, meskipun bukan yang paling mahal , dikarenakan berbagai hal :
- Ekonomi biaya tinggi dan overhead cost untuk membangun infrastruktur di Indonesia : Contohnya untuk pembangunan satu BTS saja dibutuhkan investasi milyaran rupiah, diperparah lagi dengan adanya fenomena ’sapi perahan’.
- Letak geografis Indonesia yang cukup jauh dari US sehingga untuk membangun Routing dan Backbone membutuhkan kabel lebih panjang daripada Taiwan atau Jepang. Saat ini Indonesia memiliki dua route ke Australia dan Singapura.
- Satelit Indonesia hanya bisa mengambil bandwidth dari distributor di Hongkong karena kemampuan pancaran satelit Indonesia belum bisa mengambil langsung ke Hawaii. Dan tentunya dengan harga yang sangat tinggi.
Itulah beberapa alasan utama mahalnya Internet di Indonesia.Penurunan tarif internet di Indonesia sebenarnya sudah menjadi harapan berbagai pihak, salah satunya beberapa waktu lalu Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) menggagas Roundtable Discussion tentang “Internet Murah untuk Indonesia” bekerja sama dengan berbagai narasumber dari INDOSAT dan TELKOM. Dari diskusi tersebut menghasilkan beberepa kesepakatan dan kesimpulan yang mengarah pada mendorong pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Salah satunya penggalakan content lokal untuk mengurangi akses ke luar negeri.
Memang dengan diturunkan tarif sewa jaringan ini diharapkan efeknya bisa langsung dirasakan end user dengan turunnya tarif ritel akses internet, sehingga bisa menimbulkan efek berantai pertumbuhan positif pengguna internet di Indonesia yang saat ini hanya sekitar 46 % pertahun. Lebih rendah dibandingkan China yang memiliki pertumbuhan 53 % per tahun.
Semoga saja penurunan tarif ekses internet ini tidak diiringi dengan penurunan Quality of Service seperti yang terjadi pada penurunan tarif telepon.

